Jumat, 16 Oktober 2009

Bonsai Kelapa Mencari Pengakuan


Apakah kelapa yang tumbuh kerdil dalam pot dapat disebut bonsai? Mengapa selama ini seolah-olah tidak ada pengakuan bahwa ada bonsai kelapa? Gugatan semacam ini bukan hanya muncul satu dua kali, diantaranya yang masuk pada redaksi Green Hobby.

Salah satu dari gugatan itu misalnya isi SMS di bawah ini:
Aku ini kelapa, umur 18-an tahun, tinggiku hanya 70-an cm. Mengapa aku tak diterima menjadi anggota PPBI? Apa karena aku tak bercabang? Aku kan bukan ayam kate…. ( 0818 0573 4551 )
Dari isi SMS itu, ada kesan, bahwa selama ini bonsai kelapa belum atau bahkan tidak mendapat pengakuan untuk dapat disebut bonsai. Dan pengakuan itu (harusnya) datang dari satu-satunya organisasi penghobi bonsai, yaitu PPBI. Lebih-lebih pengakuan dari juri bonsai, yang diwujudkan (misalnya) ada bonsai kelapa yang mendapatkan “bendera” dalam sebuah kontes bonsai.
Bahwa ada anggapan kelapa masih layak disebut bonsai, terbukti dalam pameran bonsai di Lamongan (3-12/6), ada bonsai kelapa yang diikutkan. Pameran bonsai di Jember beberapa waktu yang lalu juga ada bnsai kelapa, yang ditata gaya lansekap. Bukan tidak mungkin dalam pameran bonsai di tempat lain juga ada bonsai kelapa. Dan masyarakat lantas beranggapan, “oo memang kelapa dapat disebut bonsai. Buktinya, bisa ikut pameran.”
Jika parameter itu yang dipakai, maka bukan hanya kelapa. Dalam pameran bonsai di Lamongan juga, ada bonsai bambu, yang (menariknya) malah dinobatkan sebagai bonsai terbaik kedua dari tiga bonsai favorit. Dalam pameran bonsai di Pamekasan tahun lalu, malah ada bonsai pepaya. Bahkan, konon dalam pameran bonsai ASPAC I tahun 1991, pernah ada bonsai pisang.
Jadi, kalau hanya ikut dalam pameran, memang itu hak panitia. Apalagi pemiliknya sama-sama memenuhi kewajiban sebagai peserta, yaitu membayar beaya pendaftaran. Soal juri mengakui, menilai atau bahkan memenangkan, itu soal lain. Paling-paling ada yang berkomentar, “kelapa kok dibilang bonsai”. Hal yang sama juga berlaku untuk bambu, pepaya dan juga pisang.
Memang betul bahwa dari definisi menurut asal katanya (etimologi), bahwa bonsai berasal dari bahasa Jepang, Bon (wadah) dan Sai (tanaman). Namun tidak semua tanaman dalam pot/wadah dapat disebut bonsai.
Dalam berbagai kesempatan, penghobi bonsai senior, Wahjudi D. Sutomo mengemukakan, bahwa bonsai adalah pohon yang berukuran kecil, yang pertumbuhannya diatur, berpenampilan menarik, berbentuk indah, berkesan tua dan ditanam dalam pot.
Kalau hanya mengacu dari definisi ini, sebetulnya kelapa dapat digolongkan dalam bonsai. Karena kelapa dapat dibuat menjadi pohon yang kecil, pertumbuhannya juga dapat diatur, dan ditanam dalam pot. Bahkan bukan hanya berkesan tua, namun kelapa yang dibonsai dapat dipastikan telah menjadi tanaman tua.
Hanya saja, untuk dua item, yaitu “berpenampilan menarik” dan “berbentuk indah”, maka bonsai kelapa hanya sekadar dapat memenuhi syarat tersebut, namun sulit untuk ditingkatkan kualitasnya. Artinya, sesuatu yang disebut menarik dan indah itu ada tingkatannya. Ada bonsai yang menarik dan indah, namun ada yang lebih menarik dan lebih indah lagi dan ada lagi yang jauh lebih menarik dan jauh lebih indah, bahkan di atasnya lagi.
Karena itu, untuk meningkatkan derajat menarik dan indah itu maka dilakukan berbagai macam cara, mulai dari membentuk gerak dasarnya, mengatur percabangannya, merancang perantingannya, membentuk kanopinya, menciptakan keringan, bunjin, sampai dengan mengubah gayanya.
Kesemuanya itu tidak dapat dilakukan pada bonsai kelapa, yang hanya tumbuh formal, tegak, bentuk kanopinya itu-itu saja, tidak ada ranting dan cabang yang dapat diatur. Bonsai kelapa memang menarik, karena unik. Bonsai kelapa memang indah, tapi tingkat keindahannya ya hanya sampai di situ saja. Tidak dapat ditingkatkan lagi.
Jadi, kalau ada yang tetap bersikukuh bahwa kelapa dapat dibonsai, ya memang bisa saja. Bahwa ada bonsai kelapa, itu juga sah-sah saja. Lantas, mengapa PPBI tidak mengakui? Pertanyaan ini mustinya tidak perlu diajukan, sebab PPBI bukan institusi yang berhak membaptis apakah bonsai kelapa (atau pohon apapun) pantas disebut bonsai atau bukan. Tidak perlu ada pengakuan dari PPBI, sebab selama ini PPBI juga tidak pernah memberikan pengakuan yang sama untuk pohon yang lain.
Soal pengakuan dari juri bonsai? Nah, itu nanti dulu. Sebab para juri itu sudah terikat dengan aturan yang baku untuk menilai bonsai. Ada kolom-kolom yang harus diisi, yaitu: Penampilan keseluruhan, Gerak Dasar, Kematangan, dan Penjiwaan. Kelapa, bambu atau pepaya dan juga pisang, akan gugur menjadi pemenang kalau dinilai berdasarkan kolom-kolom tersebut.
Jadi, kalau ingin mendapatkan “pengakuan”, maka serahkan saja penilaian itu pada pengunjung pameran. Buktinya, Bonsai Bambu dapat terpilih sebagai salah satu pemenang dalam bonsai favorit pada pameran bonsai di Lamongan. Sekali lagi, itu sah-sah saja. Tidak usah merengek pada PPBI atau protes pada juri. Kalau perlu, digelar pameran pameran bonsai khusus untuk kelapa, bambu, pepaya, pisang dan semua tanaman yang dapat dibuat tumbuh mini dalam pot. Mengapa tidak dicoba?
– henri nurcahyo

(Majalah GREEN Hobby, nomor 11 – 2008)

Sumber : bonsaisidoarjo.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar