Jumat, 16 Oktober 2009

Kelapa Bercabang

SUYATNO
BEKAL LANGKA BUAT KE ISTANA

Kamis malam, 11 September 2003, pasti menjadi salah satu episode yang tak terlupakan dalam sejarah hidup Suyatno. Di tengah hajatan Konser 40 Tahun Intisari di Ballroom Hotel Grand Melia, Jakarta, pria berkumis sedang itu tiba-tiba bersujud syukur mencium karpet saat namanya disebut dewan juri sebagai pemenang.

Tepuk tangan penonton pun bergemuruh, sebagian ada yang menitikkan air mata. "Terima kasih, Mas. Terima kasih Intisari," ucap jebolan SMT Pertanian Sragen, Jawa Tengah itu kepada penulis, dengan suara pelan, tak lama setelah "turun panggung". Tangan lelaki kelahiran 1966 itu bergetar, suaranya pun jadi agak parau, tak kuasa menahan haru. Malam itu, buah karya Suyatno, "Pemanfaatan Sarmut (Sari Semut) dalam Pembuatan Bonsai Kelapa dan Kelapa Cabang" terpilih sebagai Pemenang Utama Intisari Award 2003 Kategori Umum, sehingga berhak meraih trofi dan hadiah uang Rp 10 juta.

Suyatno tampaknya benar-benar terkejut dan sama sekali tak menyangka bakal terpilih sebagai yang terbaik di antara para pesaingnya. Meski di sesi presentasi finalis, ketenangan dan kecakapannya menjelaskan seluk beluk pembuatan bonsai kelapa terlihat cukup memukau dewan juri. Pilihan kata-katanya yang sederhana, lugu, tapi bersemangat kerap menghangatkan suasana. "Penelitiannya benar-benar orisinil, murah, dan memiliki potensi ekonomi cukup tinggi," koor juri senada.

Apalagi alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bonsai kelapa atau kelapa bercabang terbilang sederhana. Perkakas yang dibutuhkan cuma gergaji atau golok untuk memangkas ujung kelapa, pisau kecil untuk memotong dan menyisir daun, sabit untuk memotong batang atau daun, kaleng bekas (cat atau oli) serta ember bekas. Kelapa-nya sendiri bisa dipakai kelapa gading, kelapa genjah hijau, kelapa coklat, atau kelapa merah. Sedangkan pupuknya bisa memanfaatkan kotoran binatang, semisal kotoran kambing, kerbau atau sapi, kelinci atau burung.

Cairkan semut
"Awalnya, karena saya sering digigit semut, Pak," jelasnya jenaka saat presentasi, yang kontan disambut tawa peserta presentasi. "Ini memang penemuan aneh, tapi langka," imbuhnya tak kalah lucu. Meski suka ceplas-ceplos, ketika menjelaskan teknik membuat bonsai kelapa dan kelapa bercabang, Suyatno bisa berubah menjadi sangat serius.

Membuat bonsai kelapa "biasa", dimulai dengan memapras ujung kelapa pakai gergaji atau sabit. Lalu dibiarkan sekitar sebulan, sembari disiram dua kali sehari. Setelah tunas kelapa kelihatan, masukkan kelapa dalam kaleng yang bagian bawahnya telah diisi batu kerikil, pasir, tanah berhumus, dan tanah biasa. Selama tiga bulan, kelapa dirawat dan dibentuk dengan proses pemotongan atau pemangkasan. Pada usia enam bulan, umumnya bonsai sudah "terbentuk". "Sebaiknya, tunggu sampai delapan bulan sebelum memindahkannya ke tempat permanen," saran Suyatno.

Namun, yang paling menarik tentu saja keberhasilan pria yang tahun 1996/1997 pernah mengikuti "Pendidikan Petani Ikan, Petani Tambak dan Nelayan" ini membuat bonsai kelapa bercabang. Persiapan awalnya mulai pemaprasan awal hingga penempatan kelapa di dalam kaleng, sama persis seperti membuat bonsai biasa. Bedanya, setelah masuk kaleng, tunas kelapa disiram pakai sari zat semut (SZN). Tiga hari sekali, selama lebih kurang sebulan, calon bonsai diberi SZN hingga merata.

SZN dianggap meresap jika terjadi perubahan dalam pertumbuhan bonsai kelapa. "Pertumbuhannya jadi jelek, tidak teratur atau tidak sewajarnya," ulas Suyatno. Biasanya, semua tunas akan terbungkus rapat oleh serabut. "Biarkan selama sekitar satu bulan," sambung pria yang mengaku sangat menikmati kunjungannya ke Jakarta, sebagai finalis Intisari Award 2003 itu. Kemudian tunas kelapa mulai dibersihkan pakai pisau kecil atau cutter. Sampai di sini, kalau prosesnya berjalan lancar dan dengan prosedur benar, biasanya tunas-tunas cabang akan mulai kelihatan.

"Tunas-tunas kecil itu harus dirawat dengan hati-hati, karena mudah patah," nasihat Suyatno. Setelah rapi, silakan dipindah ke lokasi penam-pungan permanen. Tapi, berdasarkan pengalaman Suyatno, yang kini punya beberapa bonsai kelapa cabang, jangan berharap sekali mencoba bisa langsung jadi. "Saya saja butuh beberapa kali percobaan, baru ketemu yang seperti ini," ujarnya jujur. Makanya, tak henti-hentinya peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja 1984 dengan karya "Tempe dari Limbah Karet" itu mengucap syukur.

Omong-omong, bagaimana cara memperoleh sari zat semut? Ternyata tak begitu susah. Syaratnya, tempat tinggal Anda punya banyak sarang semut. "Sampai saat ini, saya lebih banyak menggunakan semut hitam," katanya menjawab pertanyaan dewan juri. Kalau semut jarang terlihat, bukan berarti tidak ada sama sekali. "Makanya harus dipancing," imbuhnya. Suyatno percaya betul pada pepatah populer, ada gula ada semut. Makanya, dia memancing semut yang ngumpet memakai umpan gula. Tentu saja di tempat-tempat yang dicurigai sebagai sarang semut. Setelah itu, semut-semut yang "tertangkap" diubah dengan berbagai cara menjadi cairan. "Supaya mudah disiramkan ke bonsai," jelasnya.

Berdasarkan hitung-hitungan Suyatno, ongkos untuk membuat bonsai kelapa "lumayan murah", karena banyak memanfaatkan barang bekas. Apalagi jika penyemaian dilakukan sekaligus, misalnya 400 - 500 kelapa. Dari jumlah itu, lagi-lagi berdasarkan pengalamannya, paling tidak ada sekitar 50-an bonsai yang "hidupnya berlanjut". Nah, biaya perawatan dan pembentukan 50-an bonsai kelapa itu selama setahun, ter-nyata hanya sekitar Rp 1,3 jutaan.

Kalau ke-50 bonsai itu hidup dengan selamat hingga akhir, tinggal hitung berapa keuntungan yang akan diperoleh. Sebab, harga rata-rata per bonsai bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Bagaimana dengan bonsai kelapa bercabang? Saat ditanya berapa harganya, Suyatno yang kini punya dua buah bonsai sejenis cuma geleng-geleng kepala. "Enggak mau saya bilang, Mas. Enggak. Ini akan saya jadikan bekal ke istana," katanya, kali ini terlihat sangat serius. Sebuah harapan sederhana, dari seorang penemu yang dalam banyak hal juga sangat sederhana.

Semoga terkabul dan jangan lupa, dipatenkan ya.

Icul

Sumber : intisari-online.com

3 komentar: